About Us

Lebih dari satu dekade PERKI Jogjakarta berdiri, diinisiasi oleh Prof. Bambang Irawan SpPD-K, SpJP-K, berbekal kemauan keras dan perjuangan untuk mendirikan organisasi yang solid dan kuat, maka pada tanggal 16 November Perki jogja berdiri. Sekian tahun berdiri tumbuh dan berkembang menjadikan perki jogja semakin besar, diawali dengan tiga anggota spesialis jantung dan pembuluh darah, saat ini perki jogja telah tumbuh dan berkembang dan memiliki keanggotaan sebanyak 31 anggota aktif. Perki jogja saat ini di nahkodai oleh dr. Hariadi Hariawan Sp.PD, SpJ(K), dengan kepemimpinan beliau PERKI jogja telah menggapai beragam kemajuan dan eksistensi PERKi jogja semakin terlihat, hal ini terbukti dengan banyaknya kegiatan formal dan non formal yang diadakan ataupun yang diikuti oleh segenap anggota perki jogja.

Keseluruhan anggota Perki jogja menunjukkan adanya keberagaman yang menyatukan, menilik keanggotan Perki jogja ternyata tidak hanya lulusan dari satu Universitas Gadjah Mada saja, akan tetapi anggota PERKI Jogja berasal dari berbagai universitas di indonesia, seperti Universitas Airlangga, Universitas Sebelas Maret dan Universitas Indonesia. Keberagaman inilah membuat PERKI Jogja bernuansa sangat Indonesia.

Lahir dan tumbuh di kota kraton menjadikan PERKI Jogja memiliki ciri khas yang memadukan citarasa modern namun tetap dengan warna tradisi Kraton yang kental. Hal itu nampak dari setiap kegiatan rutin yang diadakan oleh Perki Jogja. Ciri khas tersebut melahirkan paguyuban pesepeda yang diikuti oleh anggota PERKI dan PERKI muda yang memiliki sebutan Cardio Cycling Community. Paguyuban ini rutin mengadakan kegiatan olahraga sepeda minimal tiap dua minggu sekali dengan rute penjelajahan di area Jogjakarta dan sekitarnya sehingga selain berolahraga kegiatan ini juga menunjukkan betapa kecintaan anggotanya terhadap budaya indonesia yang tersaji di Jogjakarta.

Candi Prambanan merupakan rute pilihan, di rute ini pesepeda akan disuguhi pemandangan pedesaan yang memanjakan mata, dengan tantangan jalan yang tidak menanjak membuat kayuhan kaki tetap terjaga. Di garis finish kita akan disuguhi oleh kecanggihan arsitektur jawa kuno yang menakjubkan, hasil karya budaya yang tidak kalah dengan colosseum roma atau menara pisa di paris.

 

Jadi kapan ke jogja lagi?