Gagal Jantung

Gagal Jantung: Mencegah dan Mengatasi dengan Gaya Hidup Sehat

Gagal jantung merupakan kondisi yang terjadi ketika jantung tidak lagi mampu memompa darah dengan efektif. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor risiko, seperti obesitas, darah tinggi, merokok, kolestrol tinggi, aktivitas sedentari, diabetes melitus, dan meminum alkohol. Namun, dengan mengenali faktor risiko tersebut dan melakukan gaya hidup sehat, gagal jantung dapat dicegah.

Gaya hidup sehat adalah salah satu kunci pencegahan gagal jantung. Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan, seperti olahraga secara teratur minimal 2-3 kali seminggu, cukupi cairan namun tidak berlebih, makan makanan sehat, stop rokok, batasi garam maksimal 1 sendok teh per hari, dan stop alkohol. Dengan melakukan gaya hidup sehat secara konsisten, risiko terkena gagal jantung dapat dikurangi.

Namun, bila seseorang sudah memiliki penyakit jantung sebelumnya, seperti jantung koroner, kelainan katup jantung, atau kondisi lainnya, pastikan kondisi tersebut stabil dengan terapi yang sesuai. Terapi yang dilakukan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu dan harus dilakukan secara teratur. Kontrol rutin ke dokter sangat penting agar dokter dapat memeriksa dan menilai fungsi jantung anda secara berkala, serta mengganti dosis obat, menambah atau mengurangi obat, atau mengusulkan tindakan kedokteran bila perlu.

Selain itu, terdapat beberapa hal lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi faktor risiko yang sudah ada sebelumnya, seperti mengatasi obesitas dengan menurunkan berat badan, mengatur tekanan darah dan gula darah, mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak dan kolestrol, serta menghindari stres yang berlebihan.

Dalam kesimpulannya, gagal jantung dapat dicegah dengan melakukan gaya hidup sehat, seperti olahraga secara teratur, makan makanan sehat, dan menghindari faktor risiko seperti merokok dan minum alkohol. Bila sudah memiliki penyakit jantung sebelumnya, pastikan kondisi tersebut stabil dengan terapi yang sesuai dan kontrol rutin ke dokter. Dengan melakukan hal-hal tersebut, risiko terkena gagal jantung dapat dikurangi dan kualitas hidup dapat terjaga.

Apa Itu Gagal Jantung Kongestif?

Gagal jantung kongestif atau congestive heart failure (CHF) adalah kondisi saat jantung tidak mampu memompa darah dalam jumlah yang cukup. Terutama untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan nutrisi.

Namun, gagal jantung bukan berarti jantung berhenti bekerja. Sebaliknya, jantung bekerja secara kurang efisien dari biasanya. Karena berbagai kemungkinan penyebab, darah bergerak melalui jantung dan tubuh pada kecepatan yang lebih lambat, dan tekanan di jantung meningkat. Akibatnya, jantung tidak dapat memompa cukup oksigen dan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Penyebab Gagal Jantung Kongestif

CHF terjadi akibat banyak kondisi yang merusak otot jantung, antara lain:

1. Penyakit Arteri Koroner

Penyakit arteri koroner yang memasok darah dan oksigen ke jantung, menyebabkan penurunan aliran darah ke otot jantung. Jika arteri tersumbat atau sangat sempit, maka jantung akan kekurangan oksigen dan nutrisi.

2. Serangan Jantung

Serangan jantung terjadi ketika arteri koroner tiba-tiba tersumbat, sehingga menghentikan aliran darah ke otot jantung. Adapun kondisi serangan jantung akan merusak otot jantung dan menghasilkan area bekas luka yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

3. Kardiomiopati

Kerusakan otot jantung dari penyebab selain arteri atau masalah aliran darah, seperti dari infeksi atau alkohol atau penyalahgunaan obat.

4. Kondisi yang membuat Jantung Bekerja Terlalu Keras

Ada sejumlah kondisi yang dapat membuat jantung bekerja terlalu keras. Mulai dari tekanan darah tinggi, penyakit katup, penyakit tiroid, penyakit ginjal, penyakit gula, hingga cacat jantung sejak lahir. Selain itu, gagal jantung dapat terjadi ketika beberapa penyakit atau kondisi hadir sekaligus.

Faktor Risiko Gagal Jantung Kongestif

Faktor risiko dari gagal jantung dapat meningkat akibat beberapa hal, seperti:

  • Kebiasaan yang tidak sehat, seperti merokok dan konsumsi alkohol berlebihan.
  • Konsumsi garam berlebih.
  • Kurang olahraga atau obesitas (yang menyertai berbagai penyakit koroner).
  • Ketidakpatuhan pada pengobatan atau terapi bagi masalah jantung ringan.

Untuk mengetahui level risiko jantung, kamu bisa melakukan tes dini melalui fitur Cek Risiko Penyakit Jantung di Halodoc melalui banner di bawah ini.

Seberapa Umumkah Gagal Jantung Kongestif?

Menurut WHO, penyakit jantung menjadi penyebab kematian tertinggi seluruh dunia sejak 20 tahun terakhir secara global. Hampir enam juta orang Amerika mengalami gagal jantung, dan lebih dari 870.000 orang mendapatkan diagnosis gagal jantung setiap tahunya.

Adapun gagal jantung kongestif (CHF) adalah salah satu penyebab utama rawat inap pada orang yang berusia lebih dari 65 tahun.

Sementara itu, menurut Kementerian Kesehatan RI 2020 silam, CHF merupakan penyakit penyebab kematian terbanyak kedua di Indonesia setelah stroke. Adapun prevalensi CHF di Indonesia tahun 2018 silam yang terdiagnosis dokter adalah sebesar 1,5 persen atau sekitar 1.017.290 penduduk.

Berdasarkan jumlah tersebut, CHF menjadi salah satu masalah kesehatan umum khususnya pada masyarakat Indonesia.

Fakta-Fakta Gagal Jantung Kongestif

Ada sejumlah fakta mengenai gejala gagal jantung kongestif, antara lain:

  • Penyakit ini bisa muncul bersama penyakit lain
  • Gejala akan bervariasi pada setiap pengidapnya.
  • Penyakit ini bersifat progresif atau dapat memburuk seiring dengan waktu.
  • Banyak pengidap kondisi ini yang merasa kelelahan dan napasnya pendek
  • Pengidap gagal jantung kongestif dapat diklasifikasikan menjadi empat kategori berdasarkan kemampuan pengidapnya dalam beraktivitas sehari-hari.
  • Ada tiga tingkatan gejala yang muncul berdasarkan keparahannya.
  • Selain melalui pemeriksaan fisik, kondisi ini dapat melibatkan pemeriksaan penunjang seperti tes darah, kateterisasi jantung, dan sinar X.
  • Gagal jantung berarti fungsi pemompaan jantung tak dapat memenuhi kebutuhan dasar tubuh.

Gejala Gagal Jantung Kongestif

Gejala awal CHF mungkin tidak terlalu terlihat. Berikut beberapa tanda awal yang bisa segera didiskusikan pada dokter:

  • Kelebihan cairan di jaringan tubuh, seperti pergelangan kaki, kaki, tungkai, atau perut.
  • Batuk atau mengi.
  • Sesak napas.
  • Penambahan berat badan yang tidak dapat berkaitan dengan kondisi lain.
  • Kelelahan umum.
  • Peningkatan denyut jantung.
  • Kurang nafsu makan atau mual.
  • Merasa bingung atau disorientasi.

Selain gejala di atas, pada pengidap CHF, hampir selalu memiliki:

  • Gejala gangguan pada paru yang bisa berupa: dyspnea, orthopnea, dan paroxysmal nocturnal dyspnea.
  • Indikasi atau gejala sistemik berupa: lemah, cepat lelah, oliguria, nokturia, mual, muntah, asites, hepatomegali, dan edema perifer.
  • Gejala susunan saraf pusat berupa: insomnia, sakit kepala, mimpi buruk sampai delirium.

Diagnosis Gagal Jantung Kongestif

Dengan memperhatikan setiap gejala yang muncul dan dari pemeriksaan fisik, dokter sudah dapat mencurigai bahwa seseorang memiliki kondisi ini. Namun, untuk memastikan hal itu, dokter memerlukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut:

  • EKG atau rekam jantung, yang dapat mendeteksi kelistrikan jantung, pembesaran jantung, dan otot-otot jantung.
  • Rontgen Dada: Pemeriksaan ini dapat menunjukkan pembesaran jantung. Jika kamu ingin mengetahui lebih mendalam mengenai prosedur ini, kamu bisa membaca artikel; Prosedur Rontgen Dada untuk Deteksi Gagal Jantung Kongestif.
  • Kateterisasi Jantung: dapat dokter gunakan untuk mengukur tekanan di dalam ruang jantung. Tekanan abnormal merupakan sebuah pertanda dan membantu membedakan gagal jantung kanan atau kiri, stenosis atau insufisiensi, juga mengkaji potensi arteri koroner.
  • Pemeriksaan Elektrolit: Untuk mendeteksi perubahan elektrolit dalam tubuh akan terlihat perubahan karena adanya perpindahan cairan/penurunan fungsi ginjal.

Pengobatan Gagal Jantung Kongestif 

Pasien dan dokter dapat mempertimbangkan perawatan yang sesuai dengan kondisi. Oleh karena itu, pengobatan bisa berbeda tergantung pada kondisi kesehatan secara keseluruhan dan seberapa jauh kondisi ini telah berkembang.

CHF dapat membaik dengan obat atau operasi, seperti penjelasan sebelumnya. Namun, prospek keberhasilan terapi tergantung pada seberapa parah kondisi pengidapnya miliki dan apakah ada penyakit lain yang menyertai, seperti penyakit gula atau hipertensi.

Semakin awal penyakit ini terdiagnosis dan tertangani, maka akan semakin baik pula prospek keberhasilan terapi. Selain itu, rencana perawatan yang tepat tergantung pada stadium dan jenis gagal jantung, kondisi yang mendasari, dan kondisi kesehatan pengidapnya secara individu.

Berikut ini perawatan yang umumnya dokter rekomendasikan:

  • Perawatan gaya hidup yang lebih sehat.
  • Obat-obatan, meliputi obat inhibitor aldosteron, ACE inhibitor, glikosida, antikoagulan, obat penenang, dan beta-blocker.
  • Prosedur operasi.

Selain pengobatan, pengidap harus menjalani Pola Hidup yang Perlu Diterapkan saat Mengalami Gagal Jantung.

Pencegahan Gagal Jantung Kongestif

Lakukanlah beberapa hal berikut ini agar kamu terhindar dari CHF:

  • Mengonsumsi makanan sehat, seperti sayur-sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, ikan, dan daging. Hindari makanan yang mengandung lemak jenuh, seperti gorengan, mentega, es krim dan daging olahan.
  • Batasi asupan gula dan garam.
  • Batasi konsumsi minuman keras.
  • Jika kamu memiliki tingkat tekanan darah dan kolesterol yang tinggi, segera lakukan penanganan. Kedua kondisi ini bisa meningkatkan risiko terkena CHF.
  • Jaga berat badan pada batasan sehat dan lakukan langkah-langkah penurunan berat badan yang optimal.
  • Berhenti merokok jika kamu seorang perokok. Jika kamu bukan perokok, jauhi asap rokok agar tidak menjadi perokok pasif.
  • Lakukan aktivitas atau olahraga yang dapat membuat jantung sehat, seperti bersepeda atau berjalan kaki, minimal dua setengah jam per minggu.

Komplikasi Gagal Jantung Kongestif

Efek samping atau komplikasi dari CHF, antara lain:

  • Tromboemboli adalah risiko terjadinya bekuan vena (trombosis vena dalam atau deep venous thrombosis dan emboli paru atau EP) dan emboli sistemik tinggi, terutama pada CHF berat.
  • Komplikasi fibrilasi atrium sering terjadi pada CHF yang bisa menyebabkan perburukan dramatis. Hal tersebut merupakan indikasi pemantauan denyut jantung.
  • Kegagalan pompa progresif bisa terjadi karena penggunaan obat diuretic dengan dosis ditinggikan.
  • Aritmia ventrikel sering dijumpai, bisa menyebabkan sinkop atau sudden cardiac death (25-50 persen kematian CHF).